Entah.

Halo.

It's been a while.

Ada banyak hal yang terjadi kepada saya. Kepada orang-orang di sekitar saya. Semua hal-hal yang kecil yang pada akhirnya memuncak menjadi satu hasil besar yang membuat semua seperti berbeda. Tapi karena kita ada di proses perubahan itu, perbedaannya tidak terasa. Makanya, daripada saya memberi kabar tentang hidup saya, lebih baik saya berbagi pikiran. Walau mungkin pikiran saya tidak sebegitu layaknya untuk dibagi, tapi nggak apa. Blog ini ada untuk saya.

Paragraph's so selfish it defies what my aunt said about me being too selfless.

Anyway!

Tadi saya habis menonton film di bioskop sama keluarga. Lalu setelahnya seperti biasa saya jadi terlalu bersemangat dan terlalu berpikir panjang dan lebar sampai yang saya ucapkan terdengar tidak masuk akal. Atau memang mungkin tidak masuk akal, bagi mereka yang mendengar. While in some posts online we can find that someone's blabbering is not bad, apparently that wasn't the case for me. Entah apa karena memang lingkungan saya yang tidak menyukainya, atau saya yang memang seaneh itu. Mungkin yang kedua. It's easier to take the blame, and more appropriate for the society anyway.

Apa yang terjadi hari ini sebenarnya hanya sebagian kecil dari apa yang sudah terus menerus terjadi. Ada opresi kecil yang sering saya rasakan, mungkin karena saya terlalu sensitif dan terlalu dramatis, entah. Yang manapun toh pada akhirnya hanya akan menjadi alasan dan pembenaran bagi reaksi saya. Biasanya semua hanya akan saya abaikan. Kalau diibaratkan daun, mungkin dia cuma akan gugur dan ikut menumpuk di tanah. Tapi tumpukan kalau terus dibiarkan akan menjadi semakin besar. Semakin tinggi sampai akhirnya ia melampaui pohon itu sendiri. Saya tahu kalau semua dipendam sendiri, pada akhirnya saya sendiri yang sakit. Meledak tidak tentu dengan frustasi yang bahkan mulai menjelaskannya saja tidak bisa. Yang ada semua orang bukannya membantu, mereka malah akan semakin mencibir. Semakin mengucap semua berlebihan. Tidak. Diam. Jangan.

Sebetulnya saya cuma ingin didengar.

Tapi yang saya ingin ucapkan terkadang terdengar sangat remeh sampai-sampai saya sendiri tidak mau bicara. Bahkan sebelum berucap pun, wajah semua orang muncul. Saya sudah memperkirakan reaksi mereka duluan terhadap apa yang akan saya katakan. Dan imaji saya belakangan tidak pernah baik.

Lalu mungkin saran yang masuk akal adalah saya yang mencari objek lain. Tidak perlu pada satu kelompok tertentu, saya toh masih punya yang lainnya. Mungkin mereka mau mendengar. Tapi lalu saya ingat, saya sudah sering mengeluh. Dan keluhan saya bila terucap pun, tidak akan sebebas bila saya bicara dengan lainnya. Ada batas-batas terhadap apa yang sanggup mereka dengar, dan sanggup saya bicarakan.

Tapi tentu saja, semua hanya ada di kepala saya.

Yang menahan diri saya hanyalah saya sendiri.

Jawabannya sudah ada.

Tapi entahlah.

Entah.

Komentar